KabarUpdate24 – Berita Terbaru Hari Ini – 13 Maret 2026 | Setiap bulan Ramadan, warga Surakarta dan para wisatawan menantikan momen unik yang menggabungkan kehangatan berbuka puasa dengan warisan budaya kerajaan. Tradisi “Ngabuburit bareng Kebo Bule”, hewan sakral Keraton Kasunanan Surakarta, kembali digelar di halaman istana pada sore hari menjelang maghrib.

Asal‑usul Kebo Bule dan makna sakralnya

Kebo Bule, atau kerbau putih, telah menjadi simbol kebesaran dan keberkahan Keraton Surakarta sejak abad ke‑18. Menurut catatan kronik keraton, hewan ini pertama kali dipersembahkan oleh Sunan Pakubuwono IV sebagai tanda persatuan antara rakyat dan kerajaan. Warna putihnya melambangkan kesucian, sedangkan kekuatan kerbau mencerminkan stabilitas pemerintahan.

Rangkaian acara ngabuburit

Pada sore menjelang berbuka, penjaga keraton membuka akses khusus bagi publik. Pengunjung dapat berkeliling halaman istana, menyaksikan Kebo Bule beristirahat di padang rumput buatan yang dihias kain batik berwarna cerah. Anak‑anak muda biasanya mengadakan permainan tradisional seperti “enggrang‑enggrang” dan “bakiak”. Sementara itu, pedagang makanan tradisional menata gerai yang menawarkan jajanan khas Jawa seperti kolak, wedang jahe, dan serabi.

  • 07.30‑08.00 WIB: Pembukaan gerbang keraton dan penyambutan tamu.
  • 08.00‑08.30 WIB: Penjelasan sejarah Kebo Bule oleh ahli budaya keraton.
  • 08.30‑09.15 WIB: Demonstrasi seni tradisional, termasuk tari gambyong dan gamelan.
  • 09.15‑09.45 WIB: Sesi foto bersama Kebo Bule, dengan latar belakang gerbang utama keraton.
  • 09.45‑10.00 WIB: Persiapan berbuka, doa bersama, dan pembacaan ayat suci Al‑Quran.

Foto momen kebersamaan

Kebo Bule di halaman Keraton Surakarta saat ngabuburit

Gambar di atas menampilkan Kebo Bule yang sedang beristirahat di tengah hamparan hijau, dikelilingi oleh keluarga, pelajar, dan wisatawan yang antusias. Senyum lebar anak‑anak menandakan suasana hangat dan inklusif.

Reaksi masyarakat dan dampak ekonomi

Warga setempat menyambut acara ini dengan rasa bangga. “Saya senang melihat tradisi kami tetap hidup, terutama ketika dapat berbagi kebahagiaan dengan orang lain,” ujar Budi Santoso, seorang pedagang batik. Selain meningkatkan rasa kebersamaan, acara ini memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal. Penjualan makanan dan kerajinan tangan meningkat hingga 30 % dibandingkan dengan hari biasa selama Ramadan.

Para pelaku pariwisata juga mencatat lonjakan kunjungan wisatawan domestik, khususnya dari kota‑kota besar seperti Jakarta dan Yogyakarta. Hal ini memicu penambahan layanan transportasi dan akomodasi di sekitar kawasan Keraton.

Harapan untuk masa depan

Pengelola Keraton Kasunanan Surakarta berencana menjadikan “Ngabuburit bareng Kebo Bule” sebagai agenda tahunan yang lebih luas, melibatkan lebih banyak elemen budaya seperti kerajinan perak, wayang kulit, dan kuliner tradisional. Dengan menambahkan program edukasi bagi generasi muda, diharapkan nilai‑nilai kebudayaan dapat terus dilestarikan.

Di akhir acara, para peserta mengucapkan terima kasih kepada pihak keraton dan berjanji untuk kembali pada Ramadan berikutnya. Semangat kebersamaan, rasa hormat terhadap warisan budaya, dan kegembiraan berbuka bersama Kebo Bule menjadi kenangan yang akan terus dikenang.

Advertisement — 300×250