KabarUpdate24 – Berita Terbaru Hari Ini – 09 April 2026 | Dalam pernyataan terbarunya, Prabowo menegaskan bahwa Selat Hormuz saat ini dipegang oleh satu negara, namun sekitar 70% energi‑perdagangan dunia tetap melintasi jalur yang dikelola Indonesia. Pernyataan ini menyoroti peran strategis Indonesia dalam rantai pasok energi global meski kendali geopolitik di kawasan Teluk Persia berubah.
Prabowo: Selat Hormuz dipegang satu negara, tapi 70% energi-perdagangan lewat RI [titlebase] sebagai Titik Fokus Kebijakan Energi Nasional
Menurut Prabowo, konsentrasi kontrol di Selat Hormuz tidak serta‑merta mengurangi kepentingan Indonesia sebagai pintu gerbang energi. Sebaliknya, ia menekankan bahwa 70% energi‑perdagangan dunia tetap bergantung pada infrastruktur pelabuhan dan jalur laut Indonesia, menjadikan negara ini kunci stabilitas pasar energi.
Latihan Kebijakan dan Respons Pemerintah
Pemerintah menyiapkan serangkaian kebijakan untuk memperkuat keamanan maritim, meningkatkan kapasitas pelabuhan, serta mengoptimalkan tarif logistik. Langkah‑langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan pasokan akibat monopoli satu negara di Selat Hormuz.
- Penguatan patroli laut di zona strategis.
- Peningkatan kapasitas terminal LNG dan CCGT.
- Revisi regulasi tarif untuk menurunkan beban biaya import energi.
Faktor-Faktor yang Membuat Selat Hormuz Penting bagi Indonesia
Selat Hormuz selama ini menjadi jalur utama bagi minyak mentah dan gas alam dunia. Meskipun kini satu negara menguasai selat tersebut, Indonesia tetap menjadi titik transit utama karena kedalaman laut, infrastruktur pelabuhan, dan kedekatan geografis dengan rute perdagangan Asia‑Pasifik.
Kepentingan Geopolitik
Dominasi satu negara di Selat Hormuz menimbulkan risiko geopolitik yang dapat memengaruhi harga energi global. Prabowo menilai bahwa Indonesia harus memanfaatkan posisi geografisnya untuk menjadi penyangga stabilitas energi regional, sekaligus memperkuat aliansi dengan negara‑negara konsumen energi utama.
Kronologi Pernyataan Prabowo dan Reaksi Publik
Pada Rabu, 8 April 2026, Prabowo menyampaikan pandangannya dalam konferensi pers bersama Menteri Energi dan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman. Ia menegaskan bahwa Indonesia tidak akan membiarkan satu negara menguasai Selat Hormuz mengganggu kepentingan nasional.
Setelah pernyataan tersebut, media sosial dipenuhi komentar positif tentang pentingnya diversifikasi sumber energi dan meningkatkan keamanan maritim. Analisis pakar menunjukkan bahwa pernyataan ini dapat menjadi dasar bagi kebijakan energi jangka panjang.
Dampak Ekonomi dan Perdagangan
Jika 70% energi‑perdagangan lewat RI tetap terjaga, Indonesia dapat mengoptimalkan pendapatan dari jasa pelayaran, penyimpanan, dan layanan logistik. Hal ini juga membuka peluang investasi asing di sektor energi dan infrastruktur pelabuhan.
Selain itu, kebijakan yang diusulkan akan berkontribusi pada penurunan biaya energi domestik, yang pada gilirannya dapat menstimulasi pertumbuhan sektor industri dan manufaktur.
Manfaat Langsung bagi Konsumen
- Harga BBM lebih stabil.
- Peningkatan pasokan listrik di daerah terpencil.
- Pengurangan ketergantungan pada satu sumber impor.
Langkah Selanjutnya: Implementasi Kebijakan Energi Nasional
Pemerintah berencana menggelar forum multistakeholder untuk menyusun roadmap 5‑10 tahun ke depan. Fokus utama meliputi modernisasi infrastruktur, pengembangan energi terbarukan, serta peningkatan kapasitas cadangan strategis nasional.
Prabowo menutup pertemuan dengan menekankan pentingnya sinergi antara sektor publik dan swasta dalam mengamankan alur energi, terutama mengingat Selat Hormuz dipegang satu negara, tapi 70% energi-perdagangan lewat RI [titlebase] tetap menjadi faktor penentu keamanan energi nasional.
