KabarUpdate24 – Berita Terbaru Hari Ini – 13 Maret 2026 | Kepala Desa Purwasaba, Banjarnegara, Jawa Tengah, Welas Yuni Nugroho alias Hoho Alkaf, mengungkapkan kekecewaan mendalam terhadap aparat keamanan setempat setelah dirinya dikeroyok puluhan anggota Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pada Selasa, 11 Maret 2026. Insiden terjadi di balai desa saat Hoho hendak meninggalkan lokasi setelah menolak pembatalan hasil seleksi perangkat desa.

Latihan Demonstrasi LSM Memicu Konflik

Ribuan anggota LSM menggelar aksi unjuk rasa di depan Balai Desa Purwasaba, menuntut agar proses seleksi perangkat desa diulang karena salah satu perwakilan mereka dinyatakan tidak lolos. Mereka menolak keputusan panitia seleksi yang dianggap tidak adil. Hoho Alkaf menanggapi dengan tegas, menyatakan bahwa proses seleksi sudah sesuai regulasi dan tidak ada ruang untuk manipulasi.

Detik‑detik Pengeroyokan

Menurut keterangan saksi, ketika Hoho keluar dari aula balai desa menuju mobilnya, segerombolan massa menyerbu dari berbagai arah. Tanpa pengawalan maksimal, aparat hanya mengamati dari pinggir. Hoho mengalami pukulan, kacamata pecah, dan seragam dinasnya terkelupas. Baju yang semula rapi menjadi robek‑robek, bahkan papan nama pada seragam lepas karena ditarik oleh massa.

Video yang memperlihatkan kondisi Hoho dengan seragam terkoyak beredar luas di media sosial, menambah sorotan publik terhadap kejadian ini.

Penuduhan Terhadap Kapolsek Mandiraja

Setelah insiden, Hoho menuduh Kapolsek Mandiraja tidak bersikap adil. Ia menyatakan bahwa petugas kepolisian lebih tegas terhadap pendukung pemerintah desa, sementara massa LSM yang melakukan kerusuhan dibiarkan berkumpul di area balai desa tanpa tindakan tegas.

“Kapolsek seharusnya melindungi kami, bukan menutup mata pada kerusuhan,” ujar Hoho dalam unggahan video Instagramnya pada Jumat, 13 Maret 2026.

Langkah Selanjutnya

Hoho berencana melaporkan kasus ini ke Propam Mabes Polri, menuntut pertanggungjawaban aparat yang dinilai lalai. Ia juga meminta agar penyelidikan independen dilakukan untuk menilai apakah ada unsur provokasi atau penyalahgunaan wewenang oleh pihak tertentu.

Sementara itu, LSM yang terlibat menegaskan bahwa aksi mereka adalah bentuk protes damai atas keputusan seleksi yang dianggap merugikan anggota mereka. Mereka menolak tuduhan bahwa aksi tersebut berujung pada kekerasan, melainkan menilai kerusuhan terjadi karena respons aparat yang tidak memadai.

Dampak Politik dan Sosial

Insiden ini menimbulkan perdebatan luas tentang keamanan pada acara publik, transparansi proses seleksi perangkat desa, serta peran aparat dalam menegakkan ketertiban. Masyarakat setempat terpecah antara yang mendukung Hoho sebagai penegak hukum prosedural dan yang bersimpati pada LSM yang menganggap proses seleksi tidak adil.

Para pengamat politik memperkirakan bahwa kasus ini dapat memicu revisi kebijakan keamanan pada acara serupa, serta menambah tekanan pada pemerintah daerah untuk meningkatkan akuntabilitas dalam proses rekrutmen perangkat desa.

Reaksi Publik di Media Sosial

Video Hoho yang robek‑robek dan kacamata hancur menjadi viral di platform TikTok, Instagram, dan Twitter. Banyak netizen mengkritik lambannya respons aparat, sementara sebagian lainnya menilai aksi LSM berlebihan. Hashtag #HohoKecewa dan #AparatLamban menjadi trending di Indonesia pada minggu pertama Maret.

Sejumlah aktivis hak asasi manusia menuntut agar pihak berwenang melakukan penyelidikan menyeluruh, termasuk kemungkinan adanya unsur politik yang memanfaatkan konflik ini untuk kepentingan tertentu.

Penutup

Kasus pengeroyokan terhadap Kades Hoho Alkaf mencerminkan ketegangan antara kebijakan pemerintah desa, tuntutan LSM, dan peran aparat keamanan dalam menjaga ketertiban publik. Bagaimana penyelidikan selanjutnya akan berlangsung dan apa konsekuensi hukum bagi para pelaku masih menjadi pertanyaan yang menunggu jawaban.

Kades Hoho Alkaf dikeroyok massa LSM, aparat keamanan tidak sigap

Advertisement — 300×250