KabarUpdate24 – Berita Terbaru Hari Ini – 05 April 2026 | Misi Artemis 2 NASA akan menjadi misi berawak pertama setelah kembali ke bulan sejak program Apollo, menandai langkah strategis Amerika Serikat dalam perlombaan antariksa modern. Diluncurkan dengan roket Space Launch System (SLS) yang paling kuat, misi ini mengirim empat astronot mengorbit bulan selama delapan hari, menguji sistem kehidupan dan navigasi sebelum pendaratan berawak pada Artemis 3.

Detail Lengkap Misi Artemis 2 NASA

Artemis 2 dirancang untuk menguji integrasi antara roket SLS dan modul Orion, serta prosedur penerbangan berawak yang melibatkan tiga fase kritis: peluncuran, perjalanan ke orbit bulan, dan kembali ke Bumi. Semua anggota awak dilatih intensif di Johnson Space Center, menguasai operasi darurat, EVA simulasi, dan manajemen sumber daya di ruang hampa.

Tujuan Utama

Tujuan utama misi ini meliputi verifikasi kemampuan sistem propulsi, validasi sistem komunikasi antarplanet, serta pengumpulan data radiasi yang penting bagi rencana misi ke Mars. Selain itu, Artemis 2 bertujuan memperkuat kerjasama internasional dengan mitra seperti ESA dan JAXA, yang menyediakan modul tambahan serta instrumen ilmiah.

Roket dan Kapal Luar Angkasa

Roket SLS Block 1 memiliki daya dorong lebih dari 8 juta pound, menjadikannya roket terkuat yang pernah diluncurkan. Modul Orion dilengkapi dengan heat shield berlapis carbon‑phenolic, sistem daya listrik berbasis sel bahan bakar hidrogen‑oksigen, serta sistem pendaratan darurat berbasis parachute. Kedua komponen ini akan bekerja secara sinergis untuk memastikan keamanan dan keberhasilan penerbangan berawak pertama dalam era Artemis.

  • Peluncuran dijadwalkan pada Q4 2025 dari Kennedy Space Center.
  • Orbit mengelilingi bulan pada ketinggian 100 km, dengan tiga manuver lintasan.
  • Durasi total misi diperkirakan 26 hari, termasuk fase kembali ke Bumi.
  • Pengujian sistem pendaratan darurat untuk skenario abort.

Kronologi Persiapan dan Jadwal Peluncuran

Tim NASA telah menyelesaikan fase integrasi SLS dan Orion pada akhir 2024, diikuti oleh serangkaian uji tekanan, getaran, dan termal. Uji terbang tanpa awak (Artemis 1) berhasil pada akhir 2023, memberikan data kritis untuk penyesuaian perangkat lunak penerbangan. Selanjutnya, astronaut dipilih melalui proses seleksi ketat, menekankan pengalaman EVA dan kemampuan kerja tim dalam kondisi stres tinggi.

Fase Penerbangan

Setelah peluncuran, roket SLS akan memisahkan tahap pertama dan kedua, sebelum menyalurkan Orion ke lintasan trans‑lunar. Selama perjalanan, modul akan melakukan tiga manuver orbit untuk mendekati bulan, memungkinkan tim menguji sistem navigasi otomatis serta komunikasi laser dengan Deep Space Network. Pada titik tertinggi, Orion akan mengorbit sekitar 30 jam, memberikan kesempatan bagi astronot melakukan observasi ilmiah.

Dampak dan Perkembangan Terbaru

Keberhasilan Artemis 2 akan membuka jalur bagi program Artemis 3, yang menargetkan pendaratan pertama perempuan dan orang kulit hitam di permukaan bulan. Selain menegaskan posisi NASA sebagai pemimpin eksplorasi luar angkasa, misi ini juga memicu investasi sektor swasta dalam teknologi roket dan bahan bakar alternatif. Pemerintah Indonesia menyiapkan program kolaborasi ilmiah untuk memanfaatkan data radiasi dan geologi bulan yang dihasilkan Artemis 2.

Secara ekonomi, proyek Artemis diperkirakan menciptakan ribuan lapangan kerja di industri manufaktur, software, dan pendidikan STEM. Di tingkat internasional, misi ini memperkuat kerjasama dengan lembaga antariksa Asia‑Pasifik, memperluas jaringan observatorium dan satelit yang akan mendukung penelitian iklim dan pemetaan lunar.

Dengan segala persiapan yang matang, misi Artemis 2 NASA berada pada jalur yang tepat untuk meluncur dalam beberapa bulan mendatang, menandai era baru penjelajahan luar angkasa yang lebih ambisius dan kolaboratif.

Advertisement — 300×250