KabarUpdate24 – Berita Terbaru Hari Ini – 24 Maret 2026 | Laporan WHO: Kematian anak turun, tapi laju penurunannya melambat [titlebase] menjadi sorotan utama dalam dunia kesehatan global. Data terbaru menunjukkan penurunan angka kematian anak di bawah lima tahun secara keseluruhan, namun ritme penurunan tersebut kini melambat, menimbulkan kekhawatiran akan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.

Laporan WHO: Kematian anak turun, tapi laju penurunannya melambat [titlebase] terbaru

Laporan WHO: Kematian anak turun, tapi laju penurunannya melambat [titlebase] – Fakta Utama

World Health Organization (WHO) merilis laporan tahunan yang menyoroti tren mortalitas anak. Meskipun angka kematian anak di bawah lima tahun turun dari 5,2 juta pada 2010 menjadi 4,2 juta pada 2022, laju penurunan kini melambat menjadi 2,5% per tahun, jauh di bawah target 4,5%.

Data Regional

  • Sub‑Sahara Afrika: penurunan paling signifikan namun masih tertinggal dengan 5,2% penurunan tahunan.
  • Asia Selatan: laju penurunan melambat menjadi 1,8% per tahun.
  • Amerika Latin dan Karibia: stabil pada 3,0% per tahun.
  • Negara berpendapatan tinggi: sudah mencapai ambang kematian anak kurang dari 2 per 1.000 kelahiran hidup.

Penyebab Lambatnya Penurunan

Berbagai faktor berkontribusi pada melambatnya penurunan kematian anak. Faktor utama meliputi:

  1. Ketidakmerataan akses layanan kesehatan dasar, terutama di daerah pedesaan.
  2. Peningkatan resistensi antibiotik yang memperburuk infeksi pernapasan akut.
  3. Kurangnya investasi dalam nutrisi ibu hamil dan balita.
  4. Perubahan iklim yang meningkatkan penyebaran penyakit menular.

Strategi WHO untuk Mempercepat Penurunan

WHO menekankan lima pilar utama untuk mengembalikan tren penurunan:

  • Penguatan sistem kesehatan primer dengan fokus pada imunisasi dan perawatan neonatal.
  • Skala besar program suplementasi gizi bagi ibu hamil dan anak balita.
  • Peningkatan surveilans penyakit menular dan resistensi antibiotik.
  • Peningkatan kapasitas laboratorium dan tenaga medis di wilayah terpinggirkan.
  • Kolaborasi lintas sektoral untuk mitigasi dampak perubahan iklim pada kesehatan anak.

Dampak Terhadap SDGs dan Kebijakan Nasional

Penurunan laju menurunnya kematian anak menimbulkan tekanan pada pemerintah untuk menyesuaikan kebijakan kesehatan. Banyak negara kini mengalokasikan tambahan anggaran pada program imunisasi, perawatan ibu hamil, dan infrastruktur kesehatan di daerah terpencil.

Di Indonesia, kementerian Kesehatan telah meluncurkan program “Peduli Anak 2024” yang menargetkan penurunan mortalitas anak hingga 3,5% per tahun, selaras dengan rekomendasi Laporan WHO: Kematian anak turun, tapi laju penurunannya melambat [titlebase].

Reaksi Masyarakat dan Lembaga Swadaya

Lembaga non‑profit dan komunitas lokal turut menggerakkan kampanye kesadaran, menekankan pentingnya akses air bersih, sanitasi, dan pendidikan gizi. Aktivitas mereka menjadi pelengkap upaya pemerintah dalam menanggulangi faktor risiko yang masih tinggi.

Secara keseluruhan, Laporan WHO: Kematian anak turun, tapi laju penurunannya melambat [titlebase] mengingatkan dunia bahwa pencapaian target kesehatan anak memerlukan kerja sama intensif, pendanaan berkelanjutan, dan inovasi kebijakan yang responsif terhadap tantangan baru.

Advertisement — 300×250