KabarUpdate24 – Berita Terbaru Hari Ini – 13 Maret 2026 | JAKARTA, 12 Maret 2026 – Pemerintah Indonesia memperkuat strategi energi nasional dengan menyiapkan alternatif sumber impor minyak mentah menjelang potensi gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa diversifikasi pasar, termasuk Amerika Serikat, Brasil, Australia, dan Nigeria, menjadi prioritas utama untuk menjaga stabilitas pasokan bahan bakar dalam negeri.

Langkah Antisipasi Pemerintah
Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pemerintah tengah meninjau kembali pola pembelian crude oil yang selama ini didominasi Timur Tengah. Menurutnya, penyesuaian akan dilakukan secara dinamis mengikuti indeks harga internasional (ICP) yang berfluktuasi. “Kami akan mencari alternatif yang terbaik untuk bangsa,” tegasnya dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan.
Selain menambah sumber dari negara-negara non‑Timur Tengah, kementerian berencana mengkonversi sebagian impor crude ke produk minyak mentah asal Amerika dan Afrika. Kebijakan ini diharapkan dapat meredam risiko kenaikan harga minyak global yang sempat melampaui USD 110 per barel sebelum kembali stabil di sekitar USD 100.
Data Impor Minyak dan Diversifikasi
Data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memperlihatkan bahwa pada tahun 2025‑2026, Indonesia mengimpor 34,07 juta barel minyak mentah dari Nigeria (sekitar 25% total impor) dan 28,50 juta barel dari Angola (sekitar 21%). Total impor dari negara non‑konflik mencapai 71% volume, sementara impor dari Arab Saudi hanya 19%.
Anggota Komite BPH Migas, Fathul Nugroho, menekankan bahwa diversifikasi ini memperkuat ketahanan energi nasional. “Pasokan BBM tetap aman karena kami lebih banyak mengimpor dari negara yang tidak terlibat konflik,” ujarnya.
Reaksi Pasar dan Stok Nasional
Lonjakan harga minyak dunia menimbulkan kekhawatiran tentang ketersediaan BBM di pasar domestik. Namun, Menteri Bahlil menegaskan bahwa cadangan nasional masih mencukupi untuk 23 hari, setara dengan volume yang tersimpan di tangki penyimpanan Pertamina. “Tidak perlu panic buying,” serunya.
Stok BBM nasional dipertahankan pada level aman meski kapasitas penyimpanan total hanya 6,10 juta kiloliter milik Pertamina (67%) dan 3,06 juta kiloliter milik non‑Pertamina (33%). Pemerintah belum menghitung tambahan subsidi energi karena harga masih berfluktuasi antara USD 70‑90 per barel.
Peran Pertamina dan Upaya Diversifikasi
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyatakan perusahaan telah menyiapkan alternatif impor untuk mengantisipasi gangguan di Selat Hormuz. Sumber baru mencakup Afrika, Amerika Serikat, serta wilayah lain yang tidak terpengaruh konflik. “Diversifikasi sumber memastikan ketahanan stok tetap baik,” katanya.
Selain itu, dua kapal tanker Pertamina masih berada di Selat Hormuz, sementara unit anak usaha PT Pertamina International Shipping membantu penarikan kapal FSO Abherka. Upaya logistik ini menunjukkan kesiapan operasional dalam mengamankan jalur distribusi energi.
Tantangan dan Prospek Ke Depan
Situasi geopolitik yang tidak menentu menuntut pemerintah untuk terus mengevaluasi opsi penghematan BBM, termasuk promosi penggunaan transportasi kerja dari rumah (WFH) seperti yang diterapkan oleh Filipina dan Thailand. Bahlil menambahkan bahwa evaluasi kebijakan penghematan masih dalam tahap exercise dan belum ada keputusan final.
Dengan harga minyak global masih berfluktuasi dan risiko gangguan jalur laut berlanjut, diversifikasi sumber impor serta kebijakan efisiensi energi menjadi fondasi utama menjaga stabilitas energi Indonesia ke depan.
