KabarUpdate24 – Berita Terbaru Hari Ini – 13 Maret 2026 | Fenomena OpenClaw, agen AI otonom yang disebut “lobster” oleh netizen China, telah menggelora dalam beberapa minggu terakhir. Dari antrean panjang di toko teknologi Shenzhen hingga layanan berbayar untuk menghapus perangkat lunak tersebut, OpenClaw menjadi sorotan kebijakan, keamanan siber, dan pasar kerja di negara terpadat dunia.
Lonjakan Adopsi dan Budaya “Lobster”
Setelah OpenClaw diluncurkan oleh pengembang Austria, pengguna di China dengan cepat mengadopsinya untuk mengotomatisasi tugas harian seperti mengelola jadwal, menulis email, bahkan menciptakan konten kreatif. Istilah “mengangkat lobster” muncul di media sosial, menggambarkan proses pemasangan agen AI yang dapat bekerja secara mandiri.
Di kantor pusat Tencent di Shenzhen, hampir seribu orang antre untuk mendapatkan bantuan instalasi gratis dari insinyur perusahaan. Perusahaan teknologi besar termasuk Alibaba, Baidu, dan MiniMax pun meluncurkan alat kompatibel OpenClaw, sementara pemerintah kota seperti Shenzhen, Wuxi, dan Hefei menawarkan subsidi bagi startup yang mengembangkan aplikasi berbasis platform ini.
Keamanan dan Reaksi Pemerintah
Kecepatan adopsi menimbulkan kekhawatiran keamanan. OpenClaw memerlukan akses luas ke data pribadi dan dapat berkomunikasi dengan server eksternal, meningkatkan risiko serangan siber. Pada akhir Maret, Kementerian Industri dan Teknologi Informasi melalui China Academy of Information and Communications Technology mengumumkan rencana uji kepercayaan bagi agen AI, termasuk OpenClaw, serta pengembangan standar penggunaan.
Pemerintah pusat memperingatkan lembaga negara dan perusahaan milik negara untuk tidak menginstal OpenClaw pada perangkat kerja. Karyawan bank dan instansi pemerintah diminta melaporkan jika sudah terpasang, dan beberapa sudah dilarang menggunakannya. Kebijakan ini mencerminkan upaya Beijing menyeimbangkan ambisi AI dengan kontrol keamanan.
Pasar Jasa Uninstall: Dari 299 Yuan hingga 87 Dollar
Seiring larangan resmi, muncul layanan baru di platform jual-beli bekas Xianyu (milik Alibaba) dan media sosial RedNote. Penyedia jasa menawarkan penghapusan OpenClaw dengan biaya sekitar 299 yuan (sekitar $44), bahkan hingga 87 dolar untuk layanan rumah. Beberapa iklan menjanjikan pembersihan file sisa dan virus setelah uninstall.
Fenomena ini menandai munculnya side hustle digital: pertama membantu instalasi, kemudian memungut biaya tambahan untuk menghapusnya. Para pengguna yang merasa perangkat mereka terancam keamanan atau mengganggu produktivitas kini rela mengeluarkan uang untuk layanan tersebut.
Dampak pada Tenaga Kerja dan Ekonomi
Penggunaan agen AI menimbulkan kekhawatiran tentang penggantian tenaga kerja. Penelitian Peking University terhadap lebih satu juta lowongan kerja menunjukkan penurunan perekrutan di sektor yang paling terpapar AI, seperti akuntansi, penyuntingan, dan pemrograman. Menteri Tenaga Kerja mengumumkan rencana pedoman kebijakan untuk mengatasi dampak AI pada pekerjaan, meski belum ada tanggal rilis.
Berbagai profesional, seperti Victor Chen, pengembang fintech di Guangzhou, mengaku mengandalkan OpenClaw untuk proyek mobile game dan penulisan novel, namun sekaligus khawatir akan kehilangan pekerjaan. Di sisi lain, akademisi seperti Lu Jianhua dari Tsinghua University memanfaatkan AI untuk riset infrastruktur ekonomi, menyebut AI sebagai asisten yang setara dengan beberapa asisten manusia.
Langkah Selanjutnya dan Tantangan Regulator
Beijing belum memiliki undang-undang AI komprehensif seperti Uni Eropa, melainkan mengandalkan kebijakan ad‑hoc sejak 2022, termasuk label konten AI dan aturan algoritma. Kendra Schaefer dari Trivium China menilai bahwa regulasi biasanya lambat merespon teknologi baru, sementara adopsi OpenClaw bergerak lebih cepat.
Para pakar menekankan perlunya standar tanggung jawab atas tindakan agen AI dan mekanisme audit keamanan. Sementara itu, pengguna DIY mencoba solusi seperti menjalankan OpenClaw dalam container Docker atau sandbox untuk membatasi akses data.
Gambaran Visual

